Skip to main content

Manfaat dan Proses Hemodialisa ( cuci darah ) sampai komplikasi

Orang awam sering menyebut cuci darah. Nah apa itu cuci darah? Untuk bahasa medis disebut hemodialisa. Hemodialisa disingkat HD terdiri dari kata kemo = darah dan dialisa pemisahan/ filtrasi. Proses cuci darah menempatkan darah berdampingan dengan cairan pencuci yang disebut juga dialisat yang dipisahkan oleh suatu mremban (selaput) semi permeabel. Membran ini dapat dilalui oleh air dan zat  bisa disebut zat sampah proses ini disebut dialisis. Proses dialisis adalah proses berpindahnya air atau zat atau bahan melalui membran semi permeabel. Manfaat dari cuci darah garis besar adalah sebagai fungsi ginjal bisa bersifat sementara atau permanen. Tergantung dari ginjal pasien yang fungsi masih baik atau tidak.

Manfaat dan Proses Hemodialisa
Terapi cuci darah adalah suatu mesin pengganti ginjal untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun dari peredaran darah manusia. Contoh sisa-sisa metabolisme itu air, natrium, kalium, hidrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain melalui membran semi permeabel sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal buatan. Dimana terjadi proses difusi, osmosis dan ultrafiltrasi.

Salah kaprah bila cuci darah membat ketagihan. Kebanyakan orang awam tidak mau cuci darah karena takut ketagihan. Yang betul adalah cuci darah yang menggantikan fungsi ginjal. Jika tidak dilakukan tindakan itu pasien bisa terancam jiwanya. Karena zat bersifat sampah akan menjadi racun didalam tubuh. Bila fungsi ginjal masih bagus dan diperlukan indikasi untuk cuci darah karena penyebab lain besar kemungkinan tidak akan cuci darah seterusnya. Contohnya gagal ginjal akut (AKI). Penyebab AKI contohnya dehidrasi, Dehidrasi menyebabkan gangguan ginjal. Kadar ureum dan kreatinin naik. Bila segera ditangani dengan baik fungsi ginjal bisa diselamatkan.

Tujuan dilakukan cuci darah banyak sekali. Sebagai terapi pengganti ginjal. Kegiatan cuci darah mempunyai tujuan membuang produk metabolisme protein seperti urea, kreatinin dan asam urat. Selain itu juga membuang kelebihan cairan di dalam tubuh. Mempertahankan atau mengembalikan sistem buffer tubuh. Mempertahankan atau mengembalikan kadar elektrolit tubuh. Memperbaiki status kesehatan penderita.

Proses cuci darah / Hemodialisa.

Sebuah ginjal buatan disambung dengan mesin cuci darah. Sebuah selang akan bertugas mengalirkan darah dari tubuh pasien untuk dibersihkan di ginjal buatan. Selang lainnya akan mengalirkan kembali darah ke tubuh pasien. Proses ini yang akan membuang zat (sampah) dan air yang berlebih dari tubuh pasien.

Dalam kegiatan cuci darah terjadi 3 proses utama.
  • Proses difusi : berpindahnya bahan terlarut karena perbedaan kadar di dalam darah dan di dalam dialisat. Semakin tinggi perbedaan kadar dalam darah maka semakin banyak bahan yang dipindahkan ke dalam cairan pencuci.
  • Proses ultrafiltrasi : berpindahnya air dan bahan terlarut karena perbedaan tekanan hidrostatis dalam darah dan cairan pencuci.
  • Proses osmosis : proses berpindahnya air karena tenaga kimia. Yaitu perbedaan osmolaritas darah dan cairan pencuci (dialisat).
Manfaat dan Proses cuci darah

Indikasi dilakukan cuci darah.

Pada ginjal kronik tindakan cuci darah dibutuhkan apabila fungsi ginjal seseorang telah mencapai tingkatan terakhir (stage5) dari gagal ginjal kronik. Dokter akan menentukan tingkatan fungsi ginjal seseorang berdasarkan perhitungan laju filtrasi glomerolus (LFG). Dimana tingkatan LFG dibawah 15ml/menit. Ginjal seseorang dinyatakan masuk dalam kategori gagal ginjal terminal (end stage tebal diseasis).

Bila LFG kurang dari 15 ml/menit akan dilakukan cuci darah. LFG < dari 10ml/menit dan mengalami gejala uremia atau malnutrisi. LFG kurang dari 5ml/menit walaupun tanpa gejala dapat dilakukan cuci darah untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Cuci darah juga dilakukan jika gagal ginjal menyebabkan kelainan fungsi otak disebut ensefalopati uremik. Peradangan kantong jantung disebut perikarditis. Peningkatan keasaman darah (asidosis) yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan lainnya. Gagal jantung. pasien yang mengalami Oedema paru. Kadar kalium yang sangat tinggi dalam darah.

Untuk gagal ginjal kronis (sudah lama) Hemodialisa juga digunakan sebagai pengobatan jangka panjang. Bisa juga sebagai pengobatan sementara sebelum penderita menjalani pencakokan ginjal. Pada gagal ginjal akut cuci darah dilakukan hanya selama beberapa hari atau beberapa Minggu. Sampai fungsi ginjal kembali normal.

Kontra indikasi Hemodialisa

Semua tindakan harus ada indikasi. Agar tindakan itu mempunyai tujuan positif. Seperti tindakan cuci darah dilakukan sesuai indikasi. Akan tetapi  tidak semua kondisi bisa dilakukan hemodialisa. Dilihat dari efeksamping dari cuci darah. Maka munculah kontra indikasi untuk tindakan cuci darah. Karena efek samping yang diterima akan lebih fatal daripada manfaatnya. Kondisi-kondisi yang tidak dianjurkan untuk hemodialisa seperti :

  • Hipotensi yang tidak responsif terhadap presor
  • Penyakit stadium terminal
  • Sindrom otak organik.
  • Tidak mungkin atau sulit didapatkan akses vaskuler .
  • Instabilitas hemodinamik dan koagulasi
  • Pengakit  Alzheimer
  • Dimensi multi infark
  • Sindrom hepatorenal
  • Sirosis hati lanjut dengan ensefalopati.
  • Keganasan lanjut.

Berapa lama dan frekuensi cuci darah?

Kebanyakan setiap orang dilakukan hd 3-5 jam sekali pertemuan. Dalam seminggu ada yang 1 kali pertemuan. Bahkan ada yang dilakukan seminggu 3 kali. Tergantung derajat kerusakan fungsi ginjalnya. Selain itu tergantung bagaimana diet sehari-hari, penyakit yang menyertai, ukuran tubuh dan lain-lain. Karena itu perlu dikonsultasikan secara kepada dokter ahli ginjal. Pasien yang gagal ginjal kronik jangka panjang akan dipasang AV-shunt. Yaitu pembuluh darah buatan yang dibikin besar agar mempermudah akses untuk cuci darah. Biasanya dipasang di tangan. Untuk pembuatan av-shunt dipasang oleh dokter bedah vaskuler (bedah thorax). Pertanda sudah bisa diberhasil bila teraba denyut kencang dan getar. Dan tidak boleh ditensi.

Program cuci darah dikatakan berhasil jika penderita menjalani hidup normal. Penderita kembali menjalani diet yang normal. Jumlah sel darah merah dapat ditoleransi. Tekanan darah normal. Tidak terdapat kerusakan saraf yang progresif.

Komplikasi atau efek samping dilakukan hemodialisa

Komplikasi dalam pelaksanaan cuci darah yang sering terjadi adalah: Kram otot, hipotensi, Aritmia, hipokalemia, perdarahan pada AV shunt setelah cuci darah, infeksi peradangan pada akses vaskuler, pembekuan darah, mual dan muntah. Sakit kepala, nyeri dada, gatal-gatal, demam disertai menggigil, kejang, hipertensi, emboli udara, sindrom ketidakseimbangan dialisa, dialiser leak (bocor), dializer beku.

Bagian-bagian dari alat cuci darah

  • Arterial Venouse Blood Line (AVBL)
  • Dializer atau ginjal buatan (artificial kidney)
  • Air Water Treatment
  • Larutan Dialisat
  • Mesin Hemodialisa

Pengalaman Bp FX dilakukan hemodialisa 6 kali dan bebas dari cuci darah

Bp. FX mengalami retensi urine alias kencing tidak bisa keluar. Dan dibwa ke igd untuk dipasang kateter. Setelah itu kecing bisa keluar dengan lancar lewat selang. Ternyata di usg abdomen ternyata ada prostat yang membuat penyumbatan saluran kecing. Setelah ditemukan diagnosanya direncanakan TURP. Tindakan TURP adalah seperti mengikis bagian prostat. Agar prostat yang menghambat saluran kencing hilang.

Hari kedua di rumah sakit dilakukanlah operasi itu. Setelah selesai operasi bp.FX mengalami muntah-muntah. Mungkin efek samping dari obat bius. Makin hari kok muntah terus dan prosuksi kencing sedikit. Dilakukanlah cek ureum kreatinin. Ternyata hasilnya meningkat. Ureum 200san, kreatinin 8. Direncanakan Cuci darah saat itu. Setelah Cuci darah di cek lagi kadar ureum 80 dan kreatinin 4.

Karena kondisi masih mual muntah. Dan prosuksi kencing tidak banyak. Cek lagi kadar ureum dan kreatinin. Teranya naik lagi seperti semua.  dokter merencanakan USG abdomen lagi dan hasilnya ginjal masih baik. Di renanakan Hemodialisa lagi. Dan dipantau betul-betul cairan yang masuk dan keluar. Dan pasien diberi obat lasix yang berfungsi air kencing keluar. Pasien mengalami seperti ini sampai HD ke 6 kali. Dan makin lama produksi urin banyak. Dan setelah kondisi membaik bp. FX keluar dari kamar kusus (imc). Dan dirawat ruang biasa.

Pasien makin lama stabil. Kadar ureum dan kreatinin mulai normal. Dan produksi kencing sudah normal kembali. Demikian kisah bp. FX yang mengalami HD sebanyak 6 kali. Dan tidak dilakukan HD lagi. Karena fungsi ginjalnya masih baik. Dari pengalam ini bahwa hemodialisa bisa bersifat sementara saja. Hanya untuk menggantikan fungsi ginjal dalam beroperasi dalam tubuh.

Demikian tentang cuci darah. Pembaca bisa mengerti apa itu cuci darah. Bagaimana fungsi dari hemodialisa. Tujuan untuk cuci darah. Komplisai bila dilakukan tindakan hemodialisa. Semoga bermanfaat bagi pembaca.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar